Friday, 21 June 2013

Bakteriologi Pada Makanan

Posted by Unknown on 21:54:00 with No comments
BAB I
KASUS
BOYOLALI — Makanan yang disajikan dalam pesta hajatan mantu pasangan Sardi-Parinem di Dukuh Recosari RT 003/RW 011, Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali, Minggu (3/3/2013), positif mengandung bakteri, jamur dan kuman.

Sebelumnya, sebanyak 50 warga Desa Kiringan mengalami gejala keracunan makanan setelah mengkonsumsi makanan hajatan. Pihak katering dari Dukuh Ngenden, Desa Gentan, Kecamatan Baki, Sukoharjo bertanggung jawab menanggung seluruh biaya pengobatan korban.
Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menyebutkan dari sampel makanan yang dibawa ke laboratorium, sumber  penyebab  keracunan makanan berasal dari jagung, kacang polong, wortel, daging cincang, bola daging dan tahu cetak.
Meskipun positif mengandung mikroorganisme serta kuman, namun indikasi penyebab keracunan makanan dari unsur kimia tidak ditemukan pada bahan makanan olahan katering tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Yulianto Prabowo, ketika ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat (5/4/2013), menjelaskan maraknya kasus keracunan makanan yang menimpa warga Boyolali belakangan ini erat kaitannya dengan persoalan higienitas dan sanitasi.
“Agar tidak ada kejadian lain, pengolahan makanan harus betul-betul diperhatikan. Harus higienis, bahan makanan yang digunakan berkualitas dan bisa memenuhi kaidah sterilisasi. Yang tak kalah penting, pengolahan harus benar agar tidak tercemar bakteri, kimia dan lingkungan sekitar,” terangnya.
Menurut Yulianto, pihaknya akan terus menggalakkan promosi kesehatan kaitannya dengan perilaku hidup bersih dan sehat agar kesadaran higienis masyarakat bisa terbangun.


BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengantar
Ada beberapa alasan mengapa pentingnya mikroorganisme dalam bahan makanan ialah :
  • Adanya mikroorganisme, terutama jumlah dan macamnya, dapat menentukan taraf mutu bahan makanan.
  • Mereka dapat mengakibatkan kerusakan pangan.
  • Beberapa diantaranya digunakan untuk membuat produk-produk pangan khusus.
  • Miroorganisme digunakan sebagai bahan makanan atau makanan tambahan bagi manusia dan hewan.
  • Beberapa penyakit dapat berasal dari makanan.
Mikroorganisme ini juga sebagai indikator mutu, kandungan mikroorganisme suatu spesimen pangan dapat memberikan keterangan yang mencerminkan mutu bahan mentahnya, keadaan sanitasi pada pengolahan pangan tersebut, serta keefektifan metode pengawetannya.
Kebanyakan bahan makanan merupakan media yang baik bagi pertumbuhan banyak macam mikroorganisme. Pada keadaaan fisik yang menguntungkan, terutama pada kisaran suhu 70 sampai 600 C, organisme akan tumbuh dan menyebabkan terjadinya peubahan dalam hal penampilan, rasa, bau, serta sifat-sifat lain pada bahan makanan.
  1. Bakteri Pada Makanan
Semua makhluk hidup membutuhkan makanan, sebagai sumber tenaga kita dari mulai nasi, buah-buahan, sayuran, daging, lauk-pauk, dan sebagainya. Makanan sangat disukai manusia, yang pada umumnya juga disukai mikroorganisme.
Dengan demikian mikroorganisme merupakan saingan bagi manusia. Pasti ada virus, jamur, maupun bakteri pada makanan mentah dan makanan yang sudah dimasak. Untuk makanan mentah sudah sewajarnya manusia akan mengolah makanan itu agar dapat dimakan dan tidak menimbulkan sakit bagi manusia sendiri. Dan banyak cara yang dilakukan manusia untuk mengolah makanan tersebut.
Bila makanan telah dihinggapi mikroorganisme akan mengalami penguraian nilai gizi makanan berkurang serta kelezatannya, bahkan makanan yang telah dalam keadaan terurai dapat menyebabkan sakit sampai mati bila ada orang yang memakan makanan itu.
Mikroorganisme yang sering ditemukan dalam makanan kita beragam spesiesnya, mikroorganisme ini tidak hanya hinggap pada makanan mentah atau yang sudah dimasak dalam makanan kaleng kita dapat menemui mikroorganisme yang merugikan bagi tubuh kita, berikut mikroorganisme sebagai peracunan makanan kita :
a.      Staphylococcus
Pada dasarnya bakteri Staphylococcus merupakan flora normal pada manusia, tetapi dapat pathogen bila dalam jumlah banyak dan lokasi asing. Selain itu bakteri ini dapat meracuni manusia melalui makanan contohnya selada kentang. Selada kentang yang terkontaminasi bakteri Staphylococcus yang melepaskan toksin ke selada kentang yang telah terpapar sinar matahari selama 3-4 jam sebelum kita makan, toksin ini akan menimbulkan reaksi hebat yang terjadi di dalam saluran pencernaan. Dan sifat dari toksin yang dikeluarkan Staphylococcus sangat stabil terhadap panas, jadi sulit untuk dihancurkan walaupun selada kentang sudah dimasak. Toksin ini akan bereaksi 2 sampai 4 jam kita memakan selada kentang. Satu contoh lagi Staphylococcus aureus, dari semua jenis makanan yang berasal dari hewan atau tumbuhan, baik dalam bentuk ataupun hasil olahannya. Juga banyak ditemukan pada berbagai jenis sayuran
b.      Bacillus cereus
Bacillus cereus ini terdapat pada bahan makanan terutama berbagai jenis biji-bijian (padi, gandum, jagung, kacang dll), daging, ramuan bumbu dan makanan yang dikeringkan. Bacillus cereus ini memiliki dua toksin yang menyebabkan keracunan, yang kedua toksin tersebut stabil terhadap panas. Bacillus cereus memliki spora yang tidak mati selama dimasak dan spora ini dapat tumbuh bila bahan makanan tidak diawetkan.

c.       Colstridium botulinum
Ada di semua bahan makanan dari daging dan ikan, terutama yang sudah diawetkan melalui pengalengan dan kemasan tertutup rapat. Memiliki toksin yang sangat fatal bila tertelan, toksin itu terbentuk sebelumnya, yang dihasilkan oleh bakteri ini sewaktu dalam makanan. Clostridium botulinum pada sporanya memiliki sifat tahan terhadap panas. Bila manusia terinfeksi bakteri  ini melalui makanan, maka masa inkubasi setelah terinfeksi sekitar 18-36 jam dan menimbulkan mual dan muntah-muntah, kesulitan menelan, penglihatan yang kabur, kelumpuhan beberapa otot serta kematian.

d.      Vibrio Parahaemolyticus
Terdapat pada bahan makanan hasil laut dan olahannya terutama kepiting, udang ikan, kerang rajungan dan sebagainya.

e.       Esherichia Coli
Terdapat di hampir semua jenis bahan makanan baik yang berasal dari tanaman (sayur, buah maupun hasil pertanian lain) ayau pun hewan (daging, susu dll). 
f.        Camphylobacter
Banyak ditemukan pada susu mentah, daging ayam dan unggas lainnya
Selain ada mikroorganisme yang peracunan makanan, ada juga mikroorganisme yang mengkontaminasi makanan diantaranya adalah :

A)     Salmonella
Bisa menginfeksi manusia biasanya bakteri Salmonella mengkontaminasi makanan atau melalui tangan sebagai perantara dalam pemindahan Salmonella dari sumber infeksi. Bila seseorang memakan makanan yang terkontaminasi Salmonella akan timbul gejala sakit kepala, sakit perut mual dan diare setelah masa inkubasi 10-28 jam setelah tertelan.

B)    Clostridium Perfringens
Banyak terdapat pada daging mentah, ikan mentah, sayuran, ramuan bumbu serta makanan yang sudah diolah. Bakteri ini hanya sedikit mengeluarkan toksin sehingga gejala-gejala keracunannya tidak sepenuhnya diketehui. Makanan yang terkontaminasi bakteri tertelan sampai di usus akan membentuk spora dan hanya pada waktu pembentukan endospora dalam usus itu toksin peracunan makanan diproduksi. Lagi-lagi sifat dari endospora ini tahan terhadap panas, cara memasak biasanya pun sulit memusnahkan bakteri tersebut.
Masih ada satu lagi mikroorganisme yang dapat menimbulkan keracunan makanan yaitu Pseudomonas cocovenenans. Bakteri ini banyak ditemukan dalam tempe yang lebih dikenal dengan tempe bongkrek. Semua pembuatan tempe menggunakan jamur seperti jamur Phycomycetes, terutama spesies tertentu dari genus Rhizopus atau genus Mucor. Tetapi untuk tempe bongrek ini selain ditambahkan jamur juga ditambahkan ampas kelapa. Bila pembuatan tempe ini tidak sempurna maka akan keluar racun yang didapat dalam bongkrek yang disebut asam bongkrek, yang dihasilkan bakteri Pseudomonas cocovenenans. Kejadian keracunan asam bongkrek ini banyak ditemukan di provinsi Jawa Tengah.
  1. Pengendalian mikroorganisme dalam bahan makanan
Sebagian besar bahan makanan akan segera dirombak atau dirusak oleh mikroorganisme bila didiamkan pada suhu kamar, kecuali bila diawetkan. Metode-metode modern pengawetan bahan makanan menggunakan proses-proses primitif yang sudah amat diperbaiki, seperti pengasinan, pengeringan dan pengasapan, disamping itu juga teknik-teknik yang lebih baru. Metode-metode pengawetan bahan makanan dapat dirangkunkan sebagai berikut :
1.      Penangan aseptis, contohnya selalu menjaga agar mikroorganisme perusak tidak mencemari bahan makanan untuk mengurangi kerusakan makanan, memudahkan pengawetan dan memperkecil kemungkinan adanya bakteri patogen.
2.      Penyingkiran mikroorganisme, cairan yang dipaksa lewat dengan tekanan positif atau negatif melalu saringan “tipe bakteri” yang steril dapat digunakan untuk menjernihkan zat alir serta menyingkirkan mikroorganisme. Ini adalah metode yang digunakan terhadap bir, makanan lunak, sari buah, anggur dan air.
3.      Suhu tinggi, metode paling aman dan paling dapat diandalkan, biasanya untuk memusnahkan mikroorganime yang ada pada produk makanan kaleng, botol, atau tipe-tipe wadah lain yang membatasi masuknya mikroorganisme seteleh pengolahan. Contoh dengan suhu tinggi seperti : pendidihan, uap bertekanan, dan pasteurisasi. Organisme terpenting yang harus dimushankan dari makanan kaleng adalah Clostridium botulinum  dengan cara uap bertekanan paling efektif untuk mematikan semua sel vegetatif dan spora.
4.      Suhu rendah, suhu 00 atau lebih rendah dapat menghambat pertumbuhan dan kegiatan metabolik mikroorganisme untuk jangka waktu lama. Metode pembekuan yang paling memuaskan dengan menggunakan suhu minus 320 C atau lebih rendah lagi. Karena kristel es yang terbentuk berukuraan lebih kecil dan struktur sel dalam bahan makanan tidak rusak. Pertumbuhan bakteri penyebab peracunan makanan (Clostridium botulinum, Staphylococcus aureus dan Salmonella) ­dapat dicegah pada suhu 5,50C atau lebih rendah.
5.      Dehidrasi, dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan dari mikroorganisme tetapi tidak selalu terbunuh. Pertumbuhan semua organisme dapat dicegah dengan cara mengurangi kelembapan lingkungannya sampai di bawah titik kritis.
6.      Meningkatkan tekanan osmotik, air akan menarik keluar dari sel mikroorganisme bila sel tersebut dimasukkan ke dalam yang mengandung sejumlah  besar substansi terlarut seperti gula pekat atau larutan garam. Maka, sel tersebut akan mengalami dehidrasi, metabolisme terhenti, dan dengan demikian memperlambat atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Dengn tekanan osmotik yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan, tetapi tidak dapat diandalkan untuk membunuhnya.
7.      Bahan kimia, bahan makanan ditambahkan seperti asam benzoat, sorbat, asetat, laktat dan propionat, yang ke semuanya merupakan asam organik. Asam sorbat dan propionat yang digunakan untuk mengambat pertumbuhan kapang pada roti. Nitrat dan nitrit, yang dipergunakan untuk mengawetkan daging untuk menghambat pertumbuhan beberapa bakteri anaerobik, terutama Clostidium botulinum (tetapi tidak dianjurkan karena nirit bersifat karsinogenik). Bahan makana  yang dibuat melalui proses fermentasi, seperti sayur asin, acar, dan makanan ternak yang difermentasi, menjadi awet terutama karena dihasilkannya asam asetat, laktat dan propionat selama berlangsungnya proses fermentasi oleh mikroba.
8.      Radiasi, dapat menggunakan sinar ultaviolet dan sinar gamma. Sinar ultaviolet digunakan untuk mengurangi atau menonaktifkan mikroorganisme, terutama kapang, yang terdapat dalam udara ruang penyimpanan serta ruang pengemasan perusahaan roti, kue dan daging.
  1. Pemeriksaan bahan makanan secara baktreiologis
Pemeriksaan mikrobiologis untuk pemeriksaan bahan makanan memanfaatkan teknik-teknik mikroskopis dan metode-metode pembiakan. Bermacam-macam media selektif dan diferentsial diguakan secara ekstensif untuk memudahkan isolasi dan penghitungan tipe-tipe mikroorganisme tertentu. Macam pemeriksaan yang dilakukan ditentukan oleh tipe produk pangan yang akan diperiksa dan tujuan pemeriksaaan.
Berbagai prosedur dan teknik yang digunakan dalam pemeriksaan mikrobiologis terhadap spesiemen makanan disajikan secara skematis sebagai berikut.

Namun, menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia dalam jurnalnya ISSN 1829-9334 dalam jurnal menjelaskan bahwa sampel makanan yang sudah siterima segera dilakukan pemeriksaan. Sampel makanan yang sudah didinginkan dan mudah rusak harus dianalisa paling lambat 36 jam sesudah pengambilan sampel. Untuk pemeriksaan mikrobiologis pada makanan dipersyaratkan secara umum :

1.      Uji Angka Lempeng Total
2.      Uji Angka Kapang Khamir
3.      Uji Angka Bakteri termofilik
4.      Uji Angka Bakteri pembentuk spora
5.      Uji Angka bakteri an-aerob
6.      Uji Angka  Staphylococcus aureus
7.      Uji Angka  Clostridium perfringens
8.      Uji Angka  Enterococcus
9.      Uji Angka Bacillus cereus
10.  Uji Angka Enterobacteriaceae
11.  Uji MPN Coliform
12.  Uji MPN Fekal Coliform
13.  Uji MPN Escherichia coli
14.  Uji Angka Escherichia coli
15.   Identifikasi Escherichia coli
16.   Identifikasi Staphylococcus aureus
17.   Identifikasi Salmonella
18.   IdentifikasiShigella
19.  Identifikasi Bacillus cereus
20.   Identifikasi Streptococcus faecalis
21.  Identifikasi Vibrio cholerae
22.  Identifikasi Vibrio parahaemolyticus
23.  Identifikasi Clostridium perfringens
24.  Identifikasi Listeria monocytogenes
25.  Identifikasi Campylobacter jejun

Serta ada 2 metode yang diterapkan yaitu Metode Kuantitatif dan Metode Kualitatif. Metode kuantitatif sendiri digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba yang ada pada suatu sampel, umumnya dikenal dengan Angka Lempeng Total (ALT) dan Angka Paling Mungkin atau  Most Probable Number (MPN). Uji Angka Lempeng Total (ALT) dan lebih tepatnya ALT aerob mesofil atau anaerob mesofil menggunakan media padat dengan hasil akhir berupa koloni yang dapat diamati secara visual dan dihitung, interpretasi hasil berupa angka dalam koloni(cfu) per ml/g atau koloni/100ml.
Pada metode kualitatif dilakukan perbanyakan ( enrichment pengkayaan) terlebih dahulu dari sel mikroba yang umumnya dalam jumlah yang sangat sedikit dan bahkan kadang-kadang dalam kondisi lemah. Ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu tahap pengkayaan (enrichment), tahap isolasi pada media selektif, tahap identifikasi dengan reaksi biokimia, dan dilanjutkan dengan analisa antigenik atau serologi atau immunologi dan bila diperlukan  dapat juga dilakukan identifikasi DNA bakteri dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction)
  1. Analisa kasus
Dari kasus diatas sumber  penyebab  keracunan makanan berasal dari jagung, kacang polong, wortel, daging cincang, bola daging dan tahu cetak. Jadi, bakteri yang ditemukan bisa jadi Bacillus cereus pada jagung maupun kacang polong. Bila kacang polong dibeli dalam bentuk kalengan bakteri yang ditemukan Colstridium botulinum. Untuk daging sendiri kemungkinan bakteri yang ditemukan Esherichia Coli, Staphylococcus aureus, Camphylobacter. Sedangkan tahu bisa jadi dari ragi yang ditambahkan dalam pembuatan tahu.
Selain bakteri-bakteri diatas seharusnya kita berhati-hati dalam mengolah bahan makanan yang akan kita masak, apalagi bila itu untuk pesta harus diperhatikan baik-baik. Selain itu juga harus diperhatikan cara pengolahan, penyimpanan maupun saat makanan dihidangkan.
BAB III
KESIMPULAN
Ditinjau dari kasus diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
        Di dalam produk makanan dapat terkontaminasi berbagai macam mikroorganisme, antara lain virus, jamur, maupun bakteri. Adanya kontaminasi dari berbagai macam mikroorganisme disebabkan oleh mutu bahan mentahnya, keadaan sanitasi pada pengolahan pangan tersebut, serta keefektifan metode pengawetannya. Bakteri dalam makanan dapat digolongkan sebagai bakteri peracun dan bakteri pengkontaminasi. Diantara spesies-spesies bakteri terdapat bakteri yang dapat mengakibatkan efek buruk jika tanpa sengaja termakan oleh manusia. Sebagian besar spesies bakteri pengkontaminasi makanan memiliki spora yang sulit untuk dimusnahkan, perlu dilakukan beberapa cara untuk mengendalikan mikroorganisme pada makanan, seperti penangan aseptis, penyingkiran mikroorganisme, suhu tinggi, suhu rendah, meningkatkan tekanan osmotik, bahan kimia, radiasi. Untuk mengidentifikasi adanya mikroorganisme ( khusunya bakteri ) dapat dilakukan dengan perhitungan angka kuman metode Serial Dilusi.
DAFTAR PUSTAKA
1.     Bakteri dalam makanan, http://halamanputih.wordpress.com/tag/bakteri-penyebab-keracunan/ Diunduh pada 26 April 2013, pukul 12:31 WIB.
2.     Dwidjose, Putro. 1984. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.
3.     Pelczar, M.J. 1984. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press)
4.     Volk and Wheeler. 1990. Mikrobiologi Dasar Ed ke-5. Jakarta : Erlangga.

  1. Keracunan Boyolali : Makanan di Desa Kiringan Positif Kandung Bakteri, Jamur dan Kuman, http://www.solopos.com/2013/04/05/keracunan-boyolali-makanan-di-desa-kiringan-positif-kandung-bakteri-jamur-dan-kuman-394077 Diunduh pada 25 April 2013.
  2. InfoPOM. BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA. ISSN 1829-9334. Vol. 9, No. 2, Maret 2008

Laboratorium Parasitologi

Posted by Unknown on 21:16:00 with 1 comment
Bab I
Pendahuluan
Kesehatan merupakan hal yang harus mendapatkan perhatian dari diri-sendiri, masyarakat maupun pemerintah. Kesehatan juga modal utama dalam menjalankan suatu aktifitas agar berjalan lancar. Bila kesehatan seseorang terganggu akan mengurangi produktifitas orang tersebut. Semisal pasien terserang demam berdarah perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, untuk membantu dari diagnosa dari dokter. Sehingga dokter dapat memberikan obat serta dosis yang tepat pada pasien tersebut.
Dalam pemeriksaan laboratorium diperlukan sampel yang diperoleh dari tubuh pasien tersebut. Sampel yang diambil dari tubuh pasien yang terserang demam berdarah dapat berupa sampel darah. Dari darah tersebut dibawa ke laboratorium rumah sakit atau laboratorium klinik untuk dilakukan pemeriksaan.
Laboratorium sendiri merupakan ruangan yang telah dirancang sesuai dengan kebutuhan untuk melakukan aktifitas yang berkaitan dengan fungsi-fungsi baik pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam kasus pasien demam berdarah masuk dalam laboratorium penelitian mengenai penyebab sakit dari pasien tersebut merujuk ke laboratorium dalam bidang kesehatan. Banyak di laboratorium rumah sakit maupun klinik, dan dari sampel darah akan banyak dilakukan pemeriksaan salah satunya pemeriksaan adanya parasit dalam darah pasien.
Di laboratorium rumah sakit pemeriksaan parasit dalam darah diperlukan ruangan khusus agar mudah dalam menjalankan aktifitas pemeriksaan. Dalam laboratorium parasitologi rumah sakit yang didirikan atau dirancang harus sesuai dengan standart yang berlaku. Bila ada studi banding dari rumah sakit lain atau akan melakukan akreditasi mudah dipahami dan dimengerti banyak orang. Untuk itu dalam makalah ini akan membahas laboratorium parasitologi yang representatif.


Bab II
Isi

      I.        Persyaratan Laboratorium
Suatu Laboratorium Parasitologi maupun Laboratorium lain dapat dikatakan efisien dan efektif harus memperhatikan hal-hal terkait persyaratan minimal sebagai berikut :
·         Bentuk/desain dari laboratorium harus memenuhi standart kesehatan dan keselamatan kerja.
·         Laboratorium harus senyaman dan seaman mungkin bagi para analis maupun dokter.
·         Alat-alat atau benda-benda yang diletakkan dinding tidak boleh menonjol sampai ke bagian ruang kerja para analis maupun dokter untuk berjalan.
·         Terdapat SOP (Standart Operasional Prosedur) yang bersifat opersional dan mengikat bagi semua pegawai laboratorium. Jenis SOP yang dibutuhkan seperti :
ü  Pedoman pelaksaan kerja praktikum serta protap (prosedur tetap),
ü  Dokumentasi berupa absensi pegawai maupun dokter,
ü  Keamanan dan keselamatan kerja,
ü  Buku penggunaan peralatan laboratorium baik yang menggunakan listrik maupun tidak,
ü  Buku pemeliharaan alat, dan
ü  Pengadaan dan penyimpanan alat serta bahan.
·         Tersedia air mengalir (kran).
·         Meja pemeriksaan yang digunakan tidak menembus air, tahan terhadap asam maupun basa kuat.
·         Tersedia kebutuhan listrik seperti stopkontak.
·         Serta adanya buku log hasil dari setiap pemeriksaan sampel pasien dalam Laboratorium Parasitologi maupun Laboratorium Klinik.

    II.        Tata Ruang dan Pengelolaan Laboratorium Parasitologi
Diperlukan ukuran yang pas serta nyaman dalam membuat ruang laboratorium khususnya Laboratorium Parasitologi. Dimulai dari bentuk ruang laboratorium itu lebih baik bujur sangkar atau persegi panjang. Bila ruang laboratorium berbentuk bunjur sangkar akan lebih memberikan jarak yang dekat antara pegawai laboratorium dengan meja kerjanya dengan meja pemeriksaan sampel. Dalam laboratorium seperti Laboratorium Parasitologi diperlukan bagian-bagian atau seperti sekat kerja kecil untuk pengelolaan sampel, meja kerja pegawai maupun dokter, tempat penyimpanan alat dan bahan, wastafel serta tempat sampah pembuangan limbah sampel pasien.
Aktifitas laboratorium membutuhkan aturan agar aktifitas dapat berjalan dengan lancar sehingga perlu disusun dengan jelas. Hal ini karena laboratorium merupakan suatu sistem yang terdiri atas prasarana dan sarana penunjang pemeriksaan sampel pasien, baik berupa peralatan laboratorium maupun sumber daya manusia. Oleh karena itu, laboratorium perlu diatur sesuai dengan ketentuan yang berlaku di masing-masing laboratorium rumah sakit.
Untuk itu diperlukan sistem manajemen yang memadai untuk mengelola prasana dan sarana serta kegiatan yang ada di laboratorium tersebut. Sistem manajemen ini meliputi struktur organisasi, pembagian kerja, serta susunan personel yang mengelola laboratorium.
ü  Kepala Unit Laboratorium bertanggung jawab terhadap semua pemeriksaan yang dikerjakan di laboratorium, baik secara administrasi maupun pengelolan. Untuk itu kepala unit laboratorium harus merupakan seorang yang mempunyai komitmen, kemampuan akademik, dan keterampilan manajemen yang handal. Oleh karena itu kepala unit laboratorium adalah seorang dokter spesialis parasitologi maupunpatologi klinik dengan kualifikasi pendidikan minimal : S2.
ü Penanggung jawab laboratorium membantu secara langsung tugas kepala unit laboratorium dalam bidang administrasi, sehingga membantu terjaminnya kelancaran sistim administrasi, maka seorang administrator harus mempunyai kualifikasi pendidikan minimum Sarjana Sains Terapan D.IV atau S.1 maupun Analis Kesehatan D.IV atau D.III.
ü Teknisi atau Analis Kesehatan bertugas membantu dokter untuk memeriksa sampel dari pasien, sehingga dokter dapat menegakkan diagnosa pasti kemudian memberikan obat dengan dosis yang tepat agar pasien sembuh. Juga bertugas melakukan penelitian, melakukan quality control terhdapa alat dan bahan yang terdapat pada laboratorium parasitologi tersebut.

   III.        Pemeliharaan dan Penyimpanan (Alat dan Bahan)
Dalam Laboratorium Parasitologi banyak peralatan maupun bahan yang perlu dipelihara serta disimpan agar dapat digunakan kembali sebagai contoh maupun alat untuk pemeriksaan pasien selanjutnya. Di laboratorium parsitologi harus ada alat dan bahan seperti berikut :
ü  Aspirator (penangkap nyamuk), biasanya ada pada laboratorium penelitian khusus parasitologi, untuk laboratorium rumah sakit jarang memiliki,
ü  Autoklaf, untuk sterilisasi,
ü  Batang pengaduk, cawan petri, corong, erlenmeyer dalam berbagai volume (500ml-1000ml),
ü  Gelas ukur, object glass dan deck glass yang dissposible (sekali buang), object glass cekung,
ü  Insektarum untuk memeperlihatkan morfologi,
ü  Lup, busen, mikroskop, almari es (menyimpan reagen maupun sampel), oshe, pinset, pipet tetes panjang maupun pipet tetes pendek yang terbuat dari kaca,
ü  Pisau, preparat entomologi, helmintologi, mikologi dan protozoologi sebagai acuan,
ü  Rak perwarnaan, rak preparat, rak tabung reaksi, centrifuge, spatel,
ü  Segala macam ukuran tabung reaksi, timer,
ü  Dan reagen penunjang pada pemeriksaan laboratorium parasitologi.
Semua alat dan bahan di atas perlu dilakukan pemeliharan maupun penyimpanan, yang merupakan tugas dari seorang tenaga pembantu laboratorium atau yang sering disebut laborat. Namun, sebaiknya dijaga dan dirawat bersama-sama demi kelancaran dalam bekerja. Berikut hal-hal yang dapat dilakukan dalam pemeliharaan dan penyimpanan.
             i.          Pemeliharaan umum alat dan bahan
Alat dan bahan memerlukan pemeliharaan secara rutin dan berkala, dimaksudkan agar alat pemeriksaan dapat berfungsi sebagaimana mestinya dalam jangka waktu yang lama. Prinsip-prinsip pemeliharaan alat dan bahan sebagai berikut :
1) Menjaga kebersihan alat dan kebersihan tempat menyimpan bahan, dilakukan secara periodik;
2) Mempertahankan fungsi dari peralatan dan bahan dengan memperhatikan jenis, bentuk serta bahan dasarnya;
3) Mengemas, menempatkan, menjaga, mengamankan peralatan dan bahan pemeriksaan yang diawetkan, serta membersihkan peralatan pada waktu tidak digunakan atau sehabis dipergunakan untuk praktik;
4) Mengganti secara  berkala untuk bagian-bagian peralatan yang sudah habis masa pakainya 
5) Alat-alat yang menggunakan skala ukur perlu dikalibrasi secara berkala sesuai dengan jenis alat;
6) Penyimpanan alat dan bahan harus diperhatikan sesuai dengan jenisnya.
Cara pemeliharaan alat dan bahan laboratorium Alat-alat yang terbuat dari kaca atau dari bahan yang tidak mudah mengalami korosi : pembersihan dapat dilakukan dengan menggunakan deterjen. Alat yang terbuat dari Kaca yang berlemak atau terkena noda yang sulit hilang dengan deterjen dapat dibersihkan dengan merendamnya di dalam larutan kalium bikromat 10% dalam asam sulfat pekat (100 gr kalium bikromat dilarutkan ke dalam 100 ml asam sulfat pekat, lalu dimasukkan ke dalam 1 liter air).
Sedangkan, alat-alat yang terbuat dari logam dan mudah mengalami korosi diberi perlindungan dan perlu diperiksa secara periodik. Alat-alat logam akan lebih aman jika diletakkan (disimpan) di tempat yang kering, tidak lembab, dan bebas dari uap yang korosif.  Kemudian alat-alat yang terbuat dari karet, lateks, plastik dan silikon, ditempatkan pada suhu kamar terlindung dari debu dan panas, terbuat dari kayu dan fiber disimpan pada tempat yang kering. Ruang pemeliharaan / penyimpanan alat seharusnya ber-AC, tersedia lemari asam untuk laboratorium yang menggunakan bahan-bahan kimia dan tersedia lemari tempat Alat Pelindung Diri.
                 ii.        Penyimpanan 
Penyimpanan dan penempatan alat-alat atau bahan kimia menganut prinsip sedemikian sehingga tidak menimbulkan kecelakaan pada pemakai ketika mengambil dari dan mengembalikan alat ke tempatnya. Alat yang berat atau bahan yang  berbahaya diletakkan di tempat penyimpanan yang mudah dijangkau, misalnya di rak paling bawah. Peralatan disimpan di tempat tersendiri yang tidak lembab, tidak panas dan dihindarkan berdekatan dengan bahan kimia yang bersifat korosi.  Penyimpanan alat dan bahan dapat dikelompokkan berdasarkan jenis, sifat, ukuran/volume dan bahaya dari masing-masing alat/bahan kimia. Kekerapan pemakaian juga dapat dipakai sebagai pertimbangan dalam menempatkan alat. Alat yang kerap dipakai diletakkan di dalam ruang laboratorium.

  IV.        Pemberian Identitas
Pemberian identitas pasien atau spesimen merupakan hal yang penting, baik pada saat pengisian surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan, pendaftaran, pengisian label wadah spesimen.
Pada surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiknya memuat secara lengkap:
1.    Tanggal permintaan
2.    Tanggal dan jam pengambilan sampel
3.    Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat) termasuk rekam medik.
4.    Identitas pengirim (nama, alamat, nomor telepon)
5.    Nomor laboratorium
6.    Diagnosa / keterangan klinik
7.    Obat-obtan yang telah diberikan dan lama pemberian
8.    Pemeriksaan laboratorium yang diminta
9.    Jenis spesimen
10. Transpor media / pengawet yang digunakan
11. Nama pengambilan spesimen
Label wadah spesimen yang akan dikirim atau diambil ke laboratorium harus memeuat :
-       Tanggal pengambilan spesimen
-       Nama dan nomor spesimen
-       Jenis spesimen
Bagi pasien yang datang sendiri ke laboratorium, berlaku persyaratan surat pengantar butir 1, 3, 4, 6, 7, 8, 11.

   V.        Pengadministrasi Alat dan Bahan atau Buku Log atau Buku Stock dan Administrsi hasil pemeriksaan sampel pasien.
Pengadministrasian  alat dan bahan maksudnya mencatat jumlah/ banyaknya alat dan bahan yang ada. Pengadministrasian dapat dilakukan oleh teknisi/asisten laboratorium, dan staf administrasi sebaiknya mengadministrasikan hanya perabot (meja, kursi, lemari) yang ada di dalam laboratorium. Hal yang paling penting dicatat adalah nama alat, jumlahnya/ banyaknya, spesifikasi, dan tanggal pengadaan atau tanggal alat dikeluarkan.
Pencatatan dapat dilakukan dengan cara tradisionil menggunakan buku atau kartu, sebaiknya kartu disusun menurut urutan abjad berdasarkan nama alat. Lebih baik pencatatan alat dan bahan dilakukan dengan komputer, menggunakan program yang disebut ”basis data” (data base). Dengan menggunakan program komputer pencatatan dan pencarian data dengan nama spesifikasi tertentu menjadi lebih mudah dan cepat.
Perlu dilakukakan pencatatan hasil dari setiap sampel yang diperiksa, dan setiap minggu maupun bulannya harus dilakukan pemvalidasian agar tidak terjadi kesalahan.

  VI.        Keamanan dan Keselamatan Kerja Di Laboratorium 
Untuk dapat mencegah terjadinya kecelakaan di laboratorium diperlukan pengetahuan tentang jenis-jenis kecelakaan yang mungkin terjadi di dalam laboratorium, serta pengetahuan tentang penyebabnya untuk semua pegawai di dalam laboratorium parasitologi. Jenis-jenis kecelakaan yang dapat terjadi di laboratorium yaitu:
1.    Terluka, disebabkan terkena pecahan kaca atau tertusuk oleh benda-benda tajam
2.    Terbakar, disebabkan tersentuh api atau benda panas, dan oleh bahan kimia.
3.    Terkena racun (keracunan). Keracunan ini terjadi karena bekerja menggunakan zat beracun yang secara tidak sengaja atau kecerobohan masuk ke dalam tubuh. Perlu diketahui bahwa beberapa jenis zat beracun dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit. 
4.    Terkena zat korosif seperti berbagai jenis asam, misalnya asam sulfat pekat, asam format, atau berbagai jenis basa
5.    Terkena radiasi sinar berbahaya, seperti sinar dari zat radioaktif (sinar X).
6.    Terkena kejutan listrik pada waktu menggunakan listrik bertegangan tinggi.  
Dalam laboratorium selalu diberlakukan penggunaan alat keselamatan kerja untuk meminimalisir kecelakan kerja sebagai berikut :
1.    APD  (alat pelindung diri) seperti baju praktik, sarung tangan, masker, alas kaki.
2.    APAR (Alat pemadam kebakaran) berikut petunjuk penggunaan.
3.    Tersedia perlengkapan P3K
4.    Sarana instalasi pengolahan limbah  
Selain hal-hal yang sudah disebutkan diatas perlunya edukasi atau pengetahuan akan langkah-langkah menghindari Kecelakaan Kecelakaan di laboratorium sehingga dapat dihindari dengan bekerja secara berdisiplin, memperhatikan dan mewaspadai hal-hal yang yang dapat menimbulkan bahaya atau kecelakaan, dan mempelajari serta mentaati aturan-aturan yang dibuat untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kecelakaan. Aturan-aturan yang perlu diperhatikan dan ditaati untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan di dalam laboratorium perlu dibuat peraturan untuk diketahui dan dipelajari, dan ditaati oleh semua yang terlibat di laboratorium. Bila perlu dicetak dengan huruf-huruf dan ditempel di tempat-tempat yang strategis di dalam dan di luar laboratorium. Aturan yang perlu diketahui dan ditaati adalah:
ü  Semua yang terlibat dalam kegiatan laboratorium harus mengetahui letak keran utama gas, keran air, dan saklar utama listrik.
ü  Harus mengetahui letak alat-alat pemadam kebakaran, seperti tabung pemadam kebakaran, selimut tahan api, dan pasir untuk memadamkan api.
ü  Gunakan APD [Alat pelindung diri] sesuai dengan jenis kegiatan di laboratorium.
ü  Mentaati peraturan perlakuan terhadap bahan kimia yang mudah terbakar dan berbahaya lainnya.
ü  Jangan meletakkan bahan kimia/reagen di tempat yang langsung terkena cahaya matahari.
ü  Jika mengenakan jas/baju praktik, janganlah mengenakan jas yang terlalu longgar.
ü  Dilarang makan dan minum di dalam laboratorium.
ü  Jangan menggunakan perhiasan selama praktik di laboratorium/ bengkel kerja.
ü  Jangan menggunakan sandal atau sepatu terbuka atau sepatu hak tinggi selama di laboratorium.
ü  Tumpahan bahan kimia apapun termasuk air, harus segera dibersihkan karena dapat menimbulkan kecelakaan.
ü  Bila kulit terkena bahan kimia, segera cuci dengan air banyak-banyak sampai bersih. Jangan digaruk agar zat tersebut tidak menyebar atau masuk kedalam badan melalui kulit.

Bab III
Penutup

Dalam mendirikan atau mengelola suatu laboratorium khususnya Parasitologi seharusnya mencakup hal-hal ada yang sudah dalam makalah ini. Diharapkan Laboratorium Parasitologi tersebut representatif dalam hal pendirian, sistem manajemen, pengeolahan dalam hal alat dan bahan, pengeolahan sampel, administrasi, serta kesehatan dan keselamatan kerja dari pengguna Laboratorium Parasitologi.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional RI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2004. Perpustakaan Perguruan Tinggi Buku Pedoman. 
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan akademik & Kegiatan Mahasiswa. 2005. Prosedur Operasi Standar (SOP, Standard Operating Procedures) Laboratorium. Jakarta. 
Departemen Kesehatan RI. 2006. Kurikulum 19 Jenis Inti Pendidikan Tenaga Kesehatan. Jakarta. 
Depkes BPPSDM. 2008. Pedoman Organisasi dan Tatalaksana Politeknik Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta. 
 Kertiasa, Nyoman. Laboratorium & Pengelolaannya. Pudak Scientific. Jakarta. 

Departemen Kesehatan Republik Indonesia Pusat Laboratorium Kesehatan. 1999. Pedoman Praktek Laboratorium yang Benar (Good Laboratory Practice). Jakarta.

Tuesday, 18 June 2013

Friday, 24 May 2013

CONTOH BROSUR

Posted by Unknown on 01:52:00 with No comments
Musim Pancaroba, dan ini adalah salah satu contoh Poster Pencegahan penyakit akibat musim pancaroba DEMAM BERDARAH, untuk mengunduh klik disini